BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kata “partisipasi” dan “partisipatoris” merupakan
dua kata yang sangat sering digunakan dalam pembangunan. Keduanya memiliki
banyak makna yang berbeda. Partisipasi adalah kontribusi
sukarela dari masyarakat kepada proyek tanpa ikut serta dalam pengambilan
keputusan
Partisipasi adalah membuat peka pihak masyarakat untuk meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan untuk menanggapi proyek-proyek pembangunan. Partisipasi adalah suatu proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu. Partisipasi adalah pemantapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf yang melakukan persiapan, pelaksanaan, monitoring proyek agar supaya memperoleh informasi mengenai konteks lokal, dan dampak-dampak sosialnya. Partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukannya sendiri.
Partisipasi adalah membuat peka pihak masyarakat untuk meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan untuk menanggapi proyek-proyek pembangunan. Partisipasi adalah suatu proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu. Partisipasi adalah pemantapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf yang melakukan persiapan, pelaksanaan, monitoring proyek agar supaya memperoleh informasi mengenai konteks lokal, dan dampak-dampak sosialnya. Partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukannya sendiri.
Participatory Rural
Appraisal (PRA) adalah
penilaian/ pengkajian / penelitian keadaan desa secara partisipatif. Maka dari
itu, metode PRA adalah cara yang digunakan dalam melakukan
pengkajian/penilaian/penelitian untuk memahami keadaan atau kondisi
desa/wilayah/lokalitas tertentu dengan melibatkan partisipasi masyarakat PRA
dikembangkan oleh Robert Chambers.
Participatory
Rural Appraisal (PRA) atau Pemahaman Partisipatif Kondisi
Pedesaan (PRA) adalah pendekatan dan metode yang memungkinkan masyarakat secara
bersama-sama menganalisis masalah kehidupan dalam rangka merumuskan perencanaan
dan kebijakan secara nyata
B. Tujuan penerapan metode PRA
Pada intinya PRA adalah sekelompok pendekatan atau
metode yang memungkinkan masyarakat desa untuk saling berbagi, meningkatkan,
dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan desa, serta
membuat rencana dan tindakan nyata (Chambers, 1996). Beberapa prinsip
dasar yang harus dipenuhi dalam metode PRA antara lain adalah : saling belajar
dan berbagi pengalaman, keterlibatan semua anggota kelompok dan informasi,
orang luar sebagai fasilitator, konsep triangulasi, serta optimalisasi hasil,
orientasi praktis dan keberlanjutan program (Rochdyanto, 2000). Metode
tersebut dipandang telah memiliki teknis-teknis yang dijabarkan cukup
operasional dengan konsep bahwa keterlibatan masyarakat sangat diperlukan dalam
seluruh kegiatan. Pendekatan PRA memang bercita-cita menjadikan
masyarakat menjadi peneliti, perencana, dan pelaksana pembangunan dan bukan
sekedar obyek pembangunan. Tekanan aspek penelitian bukan pada validitas
data yang diperoleh, namun pada nilai praktis untuk pengembangan program itu
sendiri. Penerapan pendekatan dan teknik PRA dapat memberi peluang yang
lebih besar dan lebih terarah untuk melibatkan masyarakat. Selain itu
melalui pendekatan PRA akan dapat dicapai kesesuaian dan ketepatgunaan program
dengan kebutuhan masyarakat sehingga keberlanjutan (sustainability)
program dapat terjamin.
C.
Prinsip-prinsip
PRA
1. Prinsip
mengutamakan yang terabaikan (keberpihakan)
Mengutamakan
masyarakat yang terabaikan agar memperoleh kesempatan untuk memiliki peran dan
mendapat manfaat dalam kegiatan program pembangunan. Keberpihakan ini lebih
pada upaya untuk mencapai keseimbangan perlakuan terhadap berbagai golongan
yang terdapat di suatu masyarakat, mengutamakan golongan paling miskin agar kehidupannya
meningkat.
2. Prinsip
pemberdayaan (penguatan) masyarakat
Peningkatan
kemampuan masyarakat, kemampuan itu ditingkatkan dalam proses pengkajian
keadaan, pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan, sampai pada pemberian
penilaian dan koreksi kepada kegiatan yang berlangsung.
3. Prinsip
masyarakat sebagai pelaku dan orang luar sebagai fasilitator
Menempatkan masyarakat sebagai pusat dari kegiatan pembangunan. Orang luar juga harus menyadari peranannya sebagai fasilitator.
Menempatkan masyarakat sebagai pusat dari kegiatan pembangunan. Orang luar juga harus menyadari peranannya sebagai fasilitator.
4. Prinsip
saling belajar dan menghargai perbedaan
Salah
satu prinsip dasarnya adalah pengakuan akan pengalaman dan pengetahuan
tradisional masyarakat.
5. Prinsip
informal
Kegiatan
PRA diselenggarakan dalam suasana yang bersifat luwes, terbuka, tidak memaksa
dan informal. Situasi ini akan menimbulkan hubungan akrab, karena orang luar
akan berproses masuk sebagai anggota masyarakat, bukan sebagai tamu asing yang
oleh masyarakat harus disambut secara resmi.
6. Prinsip
Triangulasi
Prinsip
ini lebih berhubungan dengan perolehan informasi. Adakalanya informasi yang
dikemukakan oleh individu ada kemungkinan tidak dibenarkan menurut kelompok.
Ada kemungkinan juga informasi yang diberikan kelompok tidak cocok dengan
realitas. Oleh sebab itu prinsip triangulasi merupakan tindakan untuk
mengontrol sumber informasi. Dalam masyarakat nelayan misalnya kalau juragan
mengemukakan informasi maka tingkat subyektivitasnya juga tinggi mana kala
berkenaan dengan kepentingan para juragan itu. Demikian juga dengan kelompok
yang lain. Karena sumber informasi itu banyak maka kebenaran informasi itu
perlu dicari melalui berbagai pihak dengan cara cross check.
7. Prinsip
mengoptimalkan hasil
Prinsip
mengoptimalkan atau memperoleh hasil informasi yang tepat guna menurut metode
PRA adalah :
·
Lebih baik kita
"tidak tahu apa yang tidak perlu kita ketahui" (ketahui secukupnya
saja)
·
Lebih
baik kita "tidak tahu apakah informasi itu bisa disebut benar seratus
persen, tetap diperkirakan bahwa informasi itu cenderung mendekati
kebenaran" (daripada kita tahu sama sekali)
8. Prinsip
orientasi praktis
Artinya
bahwa program program yang dikembangkan dengan metode PRA ini lebih
berorientasi pada pemecahan masalah
secara praktis. Misalnya saja apa yang menjadi
masalah kesehatan ibu dan anak di desa, potensi (kemampuan manusia atau
kelompok untuk mengerakkan perubahan ) apa yang dimiliki, tersedianya potensi
pendukung lain atau tidak, yang kemungkinan berada pada kelompok lain atau
daerah lain, ada tidaknya sumber yang dimiliki , dan program-program yang
dirancang memecahkan kebutuhan banyak pihak
9. Keberlanjutan
Dalam
kehidupan masyarakat masalah akan berkembang terus, artinya selama manusia itu
ada maka masalah tidak pernah akan selesai. Oleh karenanya program yang
dirancang oleh masyarakat untuk memecahkan persoalan mereka adalah berkesinambungan
dan memungkinkan mengantisipasi munculnya masalah dikemudian hari.
10. Belajar
dari kesalahan.
Dalam
PRA kesalahan itu wajar dan sangat manusiawi, oleh sebab itu perencanaan
program jangan terlalu sulit sehingga masyarakat tidak mampu memenuhinya. Dalam
menyusun kegiatan bukan juga hal yang bersifat coba coba akan tetapi telah
mempertimbangkan banyak hal termasuk tentang kesalahan.
11. Terbuka
Dalam
PRA sangat memungkinkan ketidak sempurnaan oleh sebab itu keterbukaan atas
tanggapan orang lain terhadap kegiatan PRA ini sangat positif sebab disadari
bahwa di setiap metode tidak pernah ada yang berlangsung dengan sempurna
D. Struktur program
Karena tujuan penerapan
metode PRA adalah pengembangan program bersama nerapannya perlu senantiasa
mengacu pada siklus pengembangan program. Gambaran umum siklus tersebut secara
ringkas adalah sebagai berikut :
a. Pengenalan
masalah/kebutuhan dan potensi, dengan maksud untuk menggali informasi tentang
keberadaan lingkungan dan masyarakat secara umum
b. Perumusan
masalah dan penetapan prioritas guna memperoleh rumusan atas dasar masalah dan
potensi setempat.
c. Identifikasi
alternatif pemecahan masalah atau pengembangan gagasan guna membahas berbagai
kemungkinan pemecahan masalah melalui urun rembug masyarakat.
d. Pemilihan
alternatif pemecahan yang paling tepat sesuai dengan kemampuan masyarakat dan
sumber daya yang tersedia dalam kaitannya dengan swadaya.
e. Perencanaan
penerapan gagasan dengan pemecahan masalah tersebut secara konkrit agar
implementasinya dapat secara mudah dipantau.
f. Penyajian
rencana kegiatan guna mendapatkan masukan untuk penyempurnaannya di tingkat
yang lebih besar.
g. Pelaksanaan
dan pengorganisasian masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan tingkat
perkembangan masyarakat.
h. Pemantauan
dan pengarahan kegiatan untuk melihat kesesuaiannya dengan rencana yang telah
disusun.
i.
Evaluasi
dan rencana tindak lanjut untuk melihat hasil sesuai yang diharapkan, masalah
yang telah terpecahkan, munculnya massalah lanjutan, dan lain-lain.
E.
Permasalahan
PRA
Meningkatnya secara cepat
popularitas PRA dikhawatirkan menyebabkan sedemikian terburu-burunya menerima
gagasan ini tanpa pemahaman yang cukup mendasar akan prinsip dasar yang ada
yang kemudian diikuti dengan harapan yang terlalu tinggi akan keampuhan
PRA. Oleh karenanya beberapa masalah yang timbul akibat merebaknya
penggunaan metode PRA adalah :
1. Permintaan melampaui kemampuan
akibat metode ini dilatihkan dalam forum yang formal tanpa cukup kesempatan
untuk menghayati dan mendalami prinsip yang mendasarinya.
2. Kehilangan tujuan dan kedangkalan
hasil akibat penerapan yang serampangan di lapangan tanpa tujuan yang jelas.
3. Kembali menyuluh akibat petugas
tidak siap untuk memfasilitasi partisipasi masyarakat.
4. Menjadi penganut fanatik karena
tidak munculnya improvisasi dan variasi petugas untuk menggali lebih dalam
permasalahan di masyarakat.
5. Mengatasnamakan PRA untuk kegiatan
yang sepotong-potong di luar konteks program pengembangan masyarakat.
6. Terpatok waktu akibat program yang
berorientasi pada target (teknis, administratif).
7. Kerutinan yang dapat membuat
kegiatan tidak hidup lagi sehingga terjebak dalam pekerjaan yang rutin dan
membosankan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar