Jumat, 20 Juni 2014

makalah tetanus neonatorum


TUGAS KELOMPOK
TETANUS NEONATORIUM
DOSEN PENGAMPUH:
JUMIATUN,S.SiT
MAFTUCHAH,S.SiT
Disusun oleh :
  1. Sri Pujiana     (AKU.10.072)

AKADEMI KEBIDANAN UNISKA (AKU)
JL.SOEKARNO HATTA NO.99 KENDAL
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang 
Tetanus neonatorum merupakan suatu penyakit akut yang dapat dicegah namun dapat berakibat fatal, yang disebabkan oleh produksi eksotoksin dari kuman Clostridium tetani gram positif, dimana kuman ini mengeluarkan toksin yang dapat menyerang sistem syaraf pusat.
Masa inkubasi kuman 3-28 hari, namun biasanya 6 hari, dimana kematian 100% terjadi terutama pada masa inkubasi < 7 hari.
B.     Tujuan                                                                                                
Adapun Tujuan dalam penulisaan makalah ini, adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui PENGERTIAN TETANUS NEONATARIUM
2.      Untuk mengetahui penyebab terjadinya NEONATORIUM
3.      Untuk mengetahui cara mengatasi  PENYAKIT NEONATORIUM
C.    Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, adalah sebagai berikut:
1.    Penyebab terjadinya tetanus neonatorium?
2.      Apa penyebab dan bagaimana cara mengatasi  masalah tetanus neonatorium?



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya,sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “TETANUS NEONATORIUM” Dengan segala kerendahan hati,penulis menyampaikan rasa terima kasih atas segala bantuan sumbangan pemikiran dan saran untuk penulis dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih kekurangan baik dari segi teknis maupun isi,oleh karena itu penulis mengharap kritik dan sasaran yang bersifat membangun untuk membuat makalah selanjutnya. Penulis berharap agar makalah ini dijadikan sebagai bahan pembelajaran dan berguna bagi pembacanya.


Kendal,26 juni  2011

                                                           
Penulis



Tetanus neonatorum

Tetanus neonatorum merupakan suatu penyakit akut yang dapat dicegah namun dapat berakibat fatal, yang disebabkan oleh produksi eksotoksin dari kuman Clostridium tetani gram positif, dimana kuman ini mengeluarkan toksin yang dapat menyerang sistem syaraf pusat.
Masa inkubasi kuman 3-28 hari, namun biasanya 6 hari, dimana kematian 100% terjadi terutama pada masa inkubasi < 7 hari.
PENYEBAB
Tetanus Neonatorum merupakan penyebab radang yang sering dijumpai pada BBLR bukan karena trauma kelahiran atau afiksia tetapi disebabkan oleh infeksi mana neonatal antara lain:
1. Infeksi melalui tali pusat
2. Akibat pemotongan tali pusat yang kurang steril
3. Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada ibu hamil tidak dilakukan, atau tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan ketentuan program
4. Pertolongan persalinan tidak memenuhi persyaratan kesehatan
Clostridium tetani terdapat di tanah, dan traktus digestivus manusia dan hewan. Kuman ini dapat membuat spora yang tahan lama dan dapat berkembang biak dalam luka yang kotor atau jaringan nekrotik yang mempunyai suasana anaerob


TANDA DAN GEJALA
Masa inkubasi penyakit adalah 5-14 hari sehingga .Gejala dan tanda tersebut biasanya muncul dalam waktu 5-10 hari setelah terinfeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi. Gejala yang paling umum terjadi adalah kekakuan pada rahang sehingga penderita tidak dapat membuka mulut, dan menelan  serta bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, dan bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.

Bisa juga dengan melihat gejala klinis atau yang lebih jelas lagi, seperti:
1.    Mulut mencucu seperti mulut ikan (karpemound)
2.    Bayi tiba-tiba panas.
3.    Bayi yang semula dapat menetek menjadi sulit menetek karena kejang pada otot faring (tenggorok dan rahang).
4.    Mudah sekali kejang disertai sianosis (biru), kejang terutama apabila terkena cahaya, suara dan sentuhan.
5.    Kejang, otot kaku/spasm dengan kesadaran tak terganggu. Kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti menyeringai dengan kedua alis yang terangkat. Kekakuan atau kejang pada otot-otot perut, leher, dan punggung dapat menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang, sedangkan badannya melengkung ke depan(kaku duduk sampai opisthotonus) . Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah akan menyebabkan sembelit dan tertahannya air kemih.
6.    Dinding perut tegang (perut papan)

PENANGANAN

Penanganan secara umum pada Tetanus Neonatorum:
1. Mengatasi kejang
a) Kejang dapat diatasi dengan mengurangi rangsangan, penderita/bayi ditempatkan di kamar yang tenang dengan sedikit sinar mengingat penderita sangat peka akan suara dan cahaya.
b) Memberikan suntikan anti kejang, obat yang dipakai ialah kombinasi fenobarbital dan largaktil. Fenobarbital dapat diberikan mula-mula 30-60 mg parenteral, kemudian dilanjutkan per os dengan dosis maksimum 10 mg per hari. Largaktil dapat diberikan bersama luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain ialah Kloralhidrat yang diberikan lewat anus.
2. Menjaga jalan nafas tetap bebas dengan membersihkan jalan nafas. Pemasangan spatel bila lidah tergigit
3. Mencari tempat masuknya spora tetanus, umumnya di tali pusat atau di telinga
4. Pemberian antitoksin
Untuk mengikat toksin yang masih bebas dapat diberi ATS dengan dosis 10.000 satuan setiap hari selama 2 hari berturut-turut dengan IM, kalau per infuse diberikan ATS 20.000 UI sekaligus.
5. Pemberian antibiotic
Untuk mengatasi infeksi dapat digunakan penisilin 200.000 UI setiap hari dan diteruskan sampai 3 hari sesudah panas turun atau ampisilin 100 mg/kgBB per hari dibagi dalam 4 dosis secara intravena selama 10 hari.
6. Perawatan yang adekuat, meliputi:
a) Kebutuhan oksigen
b) Makanan (harus hati-hati dengan memakai pipa yang dibuat dari polietilen atau karet)
c) Keseimbangan cairan dan elektrolit, kalau pemberian makanan peros tidak mungkin maka diberikan makanan dan cairan intravena. Cairan intravena berupa larutan glukosa 5% : NaCI fisiologik 4:1 selama 48-70 jam sesuai dengan kebutuhan, sedangkan untuk selanjutnya untuk memasukkan obat.
Bila sakit penderita lebih dari 24 jam atau sering terjadi kejang atau apnue, berikan larutan glukosa 10% : natrium bikarbonat 4:1 (sebaiknya jenis cairan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan analisa gas darah) bila setelah 72 jam belum mungkin diberikan minuman per oral, maka melalui cairan infus perlu ditambahkan protein dan kalium.
d) Tali pusat dirawat dengan kasa bersih dan kering
PENCEGAHAN
Pemberian toxoid tetanus kepada ibu hamil 3 x berturut-turut pada trimester ke-3 dikatakan sangat bermanfaat untuk mencegah tetanus neonatorum. Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang steril dan perawatan tali pusat selanjutnya.
PENATALAKSANAAN
Pemberian saluran nafas agar tidak tersumbat dan harus dalam keadaan bersih.
1.    Pakaian bayi dikendurkan/dibuka
2.    Mengatasi kejang dengan cara memasukkan tongspatel atau sendok yang sudah dibungkus kedalam mulut bayi agar tidak tergigit giginya dan untuk mencegah agar lidah tidak jatuh kebelakang menutupi saluran pernafasan.
3.    Ruangan dan lingkungan harus tenang
4.    Bila tidak dalam keadaan kejang berikan ASI sedikit demi sedikit, ASI dengan menggunakan pipet/diberikan personde (kalau bayi tidak mau menyusui).
5.    Perawatan tali pusat dengan teknik aseptic dan antiseptic.
6.    Selanjutnya rujuk kerumah sakit, beri pengertian pada keluarga bahwa anaknya harus dirujuk ke RS.
Faktor predisposisi
·       Adanya spora tetanus
·       Adanya jaringan yang mengalami injury, mislanya pemotongan tali pusat
·       Kondisi luka tidak bersih, yang memungkinkan perkembangan mikroorganisme host yang rentan

Faktor resiko
·       Imunisasi TT tidak dilakukan/tidak sesuai dengan ketentuan program
·       Pertolongan persalinan tidak memenuhi syarat atau tidak sesuai APN
·       Perawatan tali pusat tidak memenuhi standar kesehatan
Kekebalan diperoleh melalui imunisasi TT
Sembuh tidak berarti kebal terhadap tetanus
Toksin tetanus ;
·       Menyebabkan penyakit tetanus
·       Tidak cukup merangsang pembentukan zat antibody terhadap tetanus
·       Harus tetap imunisasi TT
Imunisasi TT merangsang pembentukan antibody spesifik yang mempunyai peranan penting dalam perlindungan terhadap tetanus. Ibu hamil mendapatkan imunisasi TT, sehingga terbentuk antibody dalam tubuhnya. Antibody tetanus termasuk golongan Ig G, melewati sawar plasenta, masuk dan menyebar melalui aliran darah janin ke seluruh tubuh janin yang dapat mencegah terjadinya tetanus neonatorum.
Komplikasi
·       Bronkopneumonia
·       Asfiksia
·       Sianosis akibat obstruksi jalan nafas oleh lendir/sekret
Prognosa
·       Bayi mengalmi panas atau peningkatan suhu (prognosa buruk)
·       Bayi dapat bertahan lebih dari 4 hari (dapat disembuhkan)
·       Untuk penyembuhan sempurna membutuhkan waktu beberapa minggu
·       Angka mortalitas 30%
·       Penyakit ini fatal pada BBL
MEDIK DAN PERAWATAN
Menurut Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002 :
1.    Diberikan cairan intravena dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis 4-1 selama 48-72 jam.
2.    Diazepam dosis awal 2,5 mg IV perlahan-lahan selama 2-3 menit
3.  ATS 10.000/hari, diberikan selama 2 hari berturut-turut dengan IM
4.  Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari
5. Tali pusat dibersihkan / dikompresi dengan alkohol 70% betadine 10%.
6.   Rawat diruang yang tenang tetapi harus terang juga hangat
7. Baringkan pasien dengan sikap kepala ekstensi dengan memberikan gajanl dibawah bahunya.
8.  Beri O2 1-2 liter/menit
9.  Pada saat kejang pasang sudit lidah
10. Observasi tanda vital secara continue setiap ½ jam
KEBUTUHAN NUTRISI DAN CAIRAN
Akibat keadaan bayi yang payah dan tidak dapat menyusui untuk memenuhi kebutuhannya. Perlu di beri infus dengan cairan glukosa 5%, bila kejang sudah berkurang pemberian makanan dapat diberikan melalui sonde dan sejalan dengan perbaikan, pemberian makanan bayi dapat diubah memakai sendok secara bertahap. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002).






KESIMPULAN

Tetanus neonatorum merupakan suatu penyakit akut yang dapat dicegah namun dapat berakibat fatal, yang disebabkan oleh produksi eksotoksin dari kuman Clostridium tetani gram positif, dimana kuman ini mengeluarkan toksin yang dapat menyerang sistem syaraf pusat

Rabu, 28 Mei 2014

tuhan tau isi hatiku yang sesungguhnnya

Rasa yang tlah mati kini hidup kembali 
hidup dalam rasa yang tak akan pernah mati 
dimana suatu pertemuan membawaku terhanyut dalam rasa itu

dimana aku dan kau bertemu 
dimana aku tenggelam dalam rasamu
ku tenggelami rasa itu penuh dengan syahdu
ku seberangi cintamu penuh dengan doaku
agak kau slalu disisiku 

dan ini mungkin tuhan tlah membukakan pintu hatiku 
agar aku bisa melihat 
melihat kenyataan yang tak penah aku inginkan 

aku harus merelakanmu untuknya
aku harus melepasmu dari pelukku 

Tuhan, jaga dia selalu untukku' jadikanlah dia laki- laki yang bermanfaat untuk nusa dan bangsa dan agamanya
ku sertakan nama mu dalam sujud dan doa mu : BINANDY    :-)

Minggu, 25 Mei 2014

pengertian zat besi bagi ibu hamil



apa itu kesehatan reproduksi???

Pengertian kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik, mental, dan sosial dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.
Pengertian kesehatan reproduksi ini mencakup tentang hal-hal sebagai berikut: 1) Hak seseorang untuk dapat memperoleh kehidupan seksual yang aman dan memuaskan serta mempunyai kapasitas untuk bereproduksi; 2) Kebebasan untuk memutuskan bilamana atau seberapa banyak melakukannya; 3) Hak dari laki-laki dan perempuan untuk memperoleh informasi serta memperoleh aksebilitas yang aman, efektif, terjangkau baik secara ekonomi maupun kultural; 4) Hak untuk mendapatkan tingkat pelayanan kesehatan yang memadai sehingga perempuan mempunyai kesempatan untuk menjalani proses kehamilan secara aman.
1.      Kesehatan reproduksi remaja dan faktor yang mempengaruhinya
Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi yaitu :
a.       Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil).
b.      Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain, dan sebagainya).
c.       Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi karena ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita pada pria yang membeli kebebasannya secara materi, dan sebagainya).
d.      Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual, dan sebagainya).
B.     Zat Besi
1.      Defenisi
Zat besi adalah salah satu mineral penting yang diperlukan selama kehamilan, bukan hanya untuk bayi tapi juga untuk ibu hamil. Bayi akan menyerap dan mengunakan zat besi dengan cepat, sehingga jika ibu kekurangan masukan zat besi selama hamil, bayi akan mengambil kebutuhanya dari tubuh ibu sehingga menyebabkan ibu mengalami anemia dan merasa lelah (Sunririnah 2008).
Sumber Zat besi adalah Daging, sayuran hijau, dan biji-bijian
Fungsi Zat besi adalah pembentukan hemoglobin, komponen enzim sitokrom (enzim dalam respirasi). Akibat Kekurangan Zat besi yaitu  anemia. Tambahan Mengenai Zat besi
yaitu ditranspor sebagai transferin dan disimpan sebagai feritin.
C.     Peranan Zat Besi (Fe) dalam Kesehatan Reproduksi
Biasanya tidak semua orang memiliki kebutuhan yang sama untuk zat besi dalam tubuh, ada perbedaan ditandai sesuai dengan usia dan tahap kehidupan yang kita berjalan.
Orang dewasa membutuhkan 10 hingga 15 miligram zat besi setiap hari, karena tubuh kita tidak dapat mensintesis, kami harus mendapatkannya dari makanan yang kita makan.
Sebagai wanita usia subur biasanya lebih rentan untuk menderita anemia, karena mereka telah kehilangan darah rutin bulanan (menstruasi), dan sering besi berlimpah memerlukan dua kali lebih banyak dalam kasus ini membutuhkan waktu sekitar 30 miligram, serta selama kehamilan, bayi mengambil hampir sebagian besar besi ibu dikonsumsi dalam makanan.
Di antara gejala yang paling umum dari kekurangan mineral ini, menemukan kelelahan, kulit pucat, kuning atau selaput lendir putih, depresi, kuku dan rambut dan sangat lemah dalam semua kasus itu selalu perlu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis.
Pokoknya kita meninggalkan sumber terbaik di mana Anda dapat menemukan besi yang diperlukan untuk tubuh melalui makanan.
Memiliki 60 miligram biji labu besi 11,2 mg, ragi bir 17,3 mg. kedelai sebagai peterseli mengandung 8,5 mg besi, 8 mg hati sapi, dan sorot bibit gandum, almond, hazelnut, kacang, buncis, bayam, telur, ubi jalar, kenari dan chard sebagai sumber mineral ini benar.
  1. Mengapa wanita memerlukan zat besi?
Zat besi memainkan peran yang penting untuk nutrisi setiap orang. Jika remaja mengonsumsi zat besi dengan baik maka hal ini akan berdampak positif untuk kesehatan otaknya kelak.
Sumber makanan yang mengandung zat besi adalah daging merah, sereal, buah kering, roti dan sayuran berdaun hijau. Sementara yang non-daging membutuhkan asupan nutrisi lain untuk meningkatkan penyerapannya seperti makanan kaya vitamin C (jeruk, blackcurrant dan sayuran berdaun hijau), sedangkan zat tanin dalam teh bisa mengurangi penyerapan zat besi.
Banyak mitos yang berkembang di masyarakat bahwa vitamin tertentu dapat menambah kesuburan. Misalnya, pasangan suami-istri dianjurkan banyak makan kecambah karena mengandung vitamin E yang baik untuk kesuburan.
Pendapat itu hanya separuh benar. Meskipun vitamin E diperlukan untuk kesuburan, vitamin tersebut bukanlah satu-satunya yang Anda butuhkan. Anda memerlukan kombinasi sejumlah vitamin lain dan mineral untuk menjaga fertilitas. Mengkonsumsi berlebihan unsur gizi tertentu tapi kurang mengkonsumsi unsur lainnya justru merugikan fertilitas (dan kesehatan) Anda. Dalam kondisi apa pun, pola makan dengan gizi seimbang harus tetap dipertahankan. Fe adalah nutrisi yang bila dikonsumsi secara seimbang akan menambah kesuburan Anda.
Zat besi memiliki peranan yang penting dalam produksi hemoglobin. Wanita memerlukan banyak zat besi yang hilang selam terjadinya menstruasi (haid), selama kehamilan, dan menyusui. Tubuh membutuhkan zat besi untuk membuat hemoglobin, zat yang ada dalam sel darah merah yang berperan membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, termasuk ke otak. Zat besi juga penting dan berperang dalam system imun dan metabolisme vitamin B. Aktivitas otak, bernafas, dan respirasi sel dan setiap proses dalam tubuh kita amat bergantung pada keberadaan zat besi dalam darah.
Faktanya, sekitar 12% wanita usia 12-49 tahun mengalami defisiensi (kekurangan) zat besi. Dan sekitar 50% wanita hamil ternyata mengalami defisiensi (kekurangan) zat besi, yang bisa berdampak cukup fatal bagi kehamilannya. Defisiensi (kekurangan) zat besi dapat mengakibatkan timbulnya kelelahan, masalah konsentrasi, hilangnya memori, kuku mudah retak. Apakah hanya itu pentingnya zat besi bagi wanita? Ternyata tak hanya itu, masalah kerontokan rambut rupanya tekait erat dengan masalah kekurangan zat besi. Melihat fakta ini, tentunya sangat penting bagi wanita untuk memerhatikan kecukupan nutrisi penting ini bagi tubuhnya.
Untuk wanita usia 50 tahun ke bawah direkomendasikan untuk mengkonsumsi zat besi sebanyak 18 mg per hari. Sementara untuk wanita yang telah menopause hanya butuh sekitar 8 mg per hari. Beberapa sumber makanan yang kaya akan zat besi misalnya, daging, salmon, sayuran hijau seperti brokoli, bayam, dan lain-lain.
Lalu, bila zat besi diperlukan tubuh, perlukan saya mengkonsumsi suplemen zat besi? Sebaiknya anda perlu berhati-hati sebelum memutuskan untuk mengkonsumsi suplemen zat besi. Karena terlalu banyak zat besi pun bisa berdampak tidak baik bagi tubuh. Untuk itu, sebaiknya anda perlu berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum memutuskan untuk mengkonsumsi suplemen zat besi.
Untuk memaksimalkan penyerapan zat besi oleh tubuh, sebaiknya disertai dengan konsumsi makanan yang mengandung vitamin C, misalnya jeruk. Hindari minum the (kurang lebih 1 jam setelah mengkonsumsi zat besi) karena di dalam the terkandung tannin yang bisa mempengaruhi penyerapan zat besi oleh tubuh. The bisa mengurangi penyerapan zat besi ke dalam tubuh sebesar 60%. Hindari pula kopi karena juga dapat mengganggu penyerapan zat besi ke dalam tubuh (kopi mengurangi sekitar 35% penyerapan zat besi).
2.      Fungsi zat besi bagi reproduksi
Zat besi berfungsi untuk membentuk sel darah merah, sementara sel darah merah bertugas mengangkut oksigen dan zat-zat makanan keseluruh tubuh serta membantu proses metabolisme tubuh untuk menghasilkan energi, jika asupan zat besi kedalam tubuh berkurang dengan sendirinya sel darah merah juga akan berkurang, tubuh pun akan kekurangan oksigen akibatnya timbullah gejala-gejala anemia. ( Samuel 2006 )
3.      Akibat kekurangan zat besi pada sistem reproduksi
Zat besi bagi ibu hamil penting untuk pembentukan dan mempertahankan sel darah merah. Kecukupan sel darah merah akan menjamin sirkulasi oksigen dan metabolisme zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh alat reproduksi. Selain itu asupun zat besi sejak awal terjadinya proses reproduksi cukup baik, maka sistem reproduksi akan menggunakannya untuk kebutuhan tumbuh kembangnya alat reproduksi. Sehingga kekurangan zat besi sejak sebelum terjadinya proses reproduksi bila tidak diatasi dapat mengakibatkan kita menderita anemia dan kanker servik.


4.      Gejala kekurangan zat besi
·        Lemah, lesu, tidak bergairah
·        Mudah pusing dan mata berkunang – kunang
·        Gelisah dan mudah pingsan
·        Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa
·        Nafsu makan menurun
·        Badan tidak bugar dan mudah lemah (Ridwamiruddin 2007)